Pattani adalah sebuah wilayah yang terletak di Thailand Selatan, berbatasan dengan Malaysia. Wilayah ini dikenal luas sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Asia Tenggara sejak abad ke-14. Pattani memiliki sejarah panjang sebagai kerajaan Melayu-Islam yang makmur, sekaligus menjadi saksi perjalanan bangsa Melayu dalam menghadapi kolonialisme, konflik politik, hingga integrasi ke dalam negara Thailand modern.
Awal Mula Pattani
Sebelum masuknya Islam, Pattani merupakan bagian dari jaringan kerajaan-kerajaan Melayu yang menganut kepercayaan Hindu-Buddha. Namun, letaknya yang strategis di pesisir timur Semenanjung Malaya menjadikan Pattani sebagai pelabuhan dagang penting dalam jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Arab, India, Cina, dan kepulauan Nusantara.
Sekitar abad ke-13 hingga 14, para pedagang Muslim dari Arab, Gujarat, dan Pasai (Aceh) mulai menyebarkan agama Islam di Pattani. Salah satu momen penting yang sering dikaitkan dengan Islamisasi Pattani adalah konversi Raja Pattani menjadi Muslim, yang kemudian mengganti namanya dan memperkuat identitas Islam di kerajaan ini.
Kerajaan Pattani Darussalam
Pattani kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan Islam yang dikenal dengan sebutan Kerajaan Pattani Darussalam. Puncak kejayaan kerajaan ini terjadi antara abad ke-15 hingga abad ke-17.
Faktor kejayaan Pattani:
- Perdagangan – Pattani menjadi pelabuhan penting yang menghubungkan pedagang dari Cina, Arab, India, dan kepulauan Melayu. Komoditas utama adalah rempah-rempah, timah, dan hasil bumi lainnya.
- Budaya Islam – Islam dijadikan landasan hukum dan tata pemerintahan. Ulama dari berbagai daerah datang untuk mengajar dan menyebarkan ilmu agama.
- Peran Sultanah – Uniknya, Pattani pernah diperintah oleh empat ratu (sultanah) secara berturut-turut yang dikenal sebagai Ratu Hijau, Ratu Biru, Ratu Ungu, dan Ratu Kuning. Di bawah kepemimpinan mereka, Pattani tetap stabil, bahkan semakin makmur.
Kerajaan Pattani Darussalam juga dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di Semenanjung Malaya. Dari Pattani, Islam menyebar ke wilayah sekitarnya seperti Kelantan, Terengganu, hingga ke bagian utara Malaysia saat ini.
Hubungan dengan Siam dan Kolonialisme
Seiring berjalannya waktu, Pattani menghadapi tekanan dari kerajaan tetangga, terutama Kerajaan Siam (Thailand) yang berada di utara. Pada abad ke-18, Pattani berhasil ditaklukkan oleh Siam setelah melalui peperangan panjang. Meskipun secara budaya dan agama Pattani tetap identik dengan Melayu-Islam, secara politik wilayah ini masuk dalam kekuasaan Siam.
Pada masa kolonial, terutama ketika Inggris menguasai Malaya, posisi Pattani semakin terjepit. Inggris dan Siam membuat perjanjian Anglo-Siam Treaty 1909, di mana Pattani resmi masuk ke wilayah Siam (Thailand), sementara Malaya menjadi protektorat Inggris. Sejak saat itu, Pattani kehilangan peluang untuk bergabung dengan wilayah Melayu lain yang kini menjadi bagian dari Malaysia.
Pattani dalam Negara Thailand
Setelah masuk ke wilayah Thailand, masyarakat Pattani yang mayoritas Muslim Melayu sering mengalami ketegangan dengan pemerintah pusat yang berbudaya Thai-Buddha. Identitas Melayu-Islam di Pattani dianggap berbeda dari identitas nasional Thailand.
Tantangan yang dihadapi:
- Bahasa – Masyarakat Pattani menggunakan bahasa Melayu (dialek Kelantan-Patani), namun pemerintah Thailand mendorong penggunaan bahasa Thai.
- Agama – Islam adalah identitas utama masyarakat Pattani, sementara Thailand mayoritas beragama Buddha.
- Budaya – Tradisi Melayu-Islam sering berbenturan dengan kebijakan asimilasi pemerintah Thailand.
Situasi ini menimbulkan ketidakpuasan yang berujung pada munculnya gerakan separatis Pattani, terutama sejak abad ke-20 hingga sekarang. Gerakan ini menuntut otonomi lebih besar, bahkan sebagian menuntut kemerdekaan Pattani Darussalam.
Peran Pattani dalam Dunia Islam
Meskipun berada dalam tekanan politik, Pattani tetap memiliki kontribusi besar bagi perkembangan Islam di Asia Tenggara. Beberapa tokoh ulama Pattani dikenal luas hingga ke Nusantara. Salah satunya adalah Syekh Daud al-Fatani, seorang ulama besar abad ke-18 yang menghasilkan banyak karya tulis dalam bahasa Melayu-Jawi. Karyanya menjadi rujukan utama dalam pendidikan Islam di pondok pesantren dan madrasah di Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
Dengan demikian, Pattani bukan hanya sebuah daerah, tetapi juga pusat keilmuan Islam yang berpengaruh di Asia Tenggara.
Kesimpulan
Sejarah Pattani menunjukkan perjalanan panjang sebuah wilayah Melayu-Islam yang penuh dinamika. Dari kerajaan Islam yang makmur di abad ke-16, menjadi wilayah jajahan Siam di abad ke-18, hingga kini berstatus sebagai provinsi Thailand Selatan.
Meski menghadapi tantangan identitas, Pattani tetap mempertahankan warisan budaya Melayu-Islam, menjadikannya simbol perlawanan sekaligus pusat perkembangan ilmu Islam di Asia Tenggara. Kisah Pattani adalah cerminan bagaimana sebuah bangsa kecil berjuang mempertahankan identitas agama dan budaya di tengah tekanan politik dan globalisasi.